Satu Rumah Empat Agama; Fanatisme dan Dampak Harmoni Beda Agama di Danau Paris
Keywords:
keluarga lintas agama, fanatisme agama, komunikasi interpersonalAbstract
Fenomena keluarga lintas agama yang hidup dalam satu rumah di Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, menghadirkan realitas sosial yang unik sekaligus menantang dalam konteks masyarakat multikultural. Kehidupan bersama anggota keluarga yang memeluk Islam, Kristen, Katolik, dan Pambi—sebuah agama lokal—menunjukkan adanya pola komunikasi dan relasi sosial yang berbeda dengan konstruksi umum tentang keluarga, di mana perbedaan keyakinan seringkali dipersepsikan sebagai sumber konflik. Namun, kenyataan di Danau Paris justru memperlihatkan bahwa perbedaan agama dapat diterima dan dikelola secara damai dalam lingkup keluarga kecil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menelusuri bagaimana interaksi sehari-hari dalam keluarga lintas agama dibangun. Temuan utama menunjukkan bahwa faktor rendahnya fanatisme keagamaan, minimnya internalisasi ajaran agama secara mendalam. Komunikasi interpersonal yang menekankan keterbukaan, empati, sikap suportif, dan kesetaraan berperan penting dalam menjaga kohesi sosial di dalam rumah. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti bahwa rendahnya pemahaman agama pada sebagian masyarakat setempat membuat perbedaan keyakinan dianggap lumrah, bahkan tidak mengganggu solidaritas keluarga. Temuan ini sejalan dengan teori Face Negotiation dan Identification Theory yang menekankan pentingnya pengelolaan identitas dalam komunikasi lintas budaya. Hasil penelitian ini menawarkan kontribusi penting bagi kajian toleransi beragama, sekaligus memberikan alternatif model bagi masyarakat lain dalam mengelola keragaman iman di tingkat keluarga maupun komunitas.